Penulis : Prof. Zakiyuddin Baidhawy

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (16/2/2019).

Melalui sidang tanwir di Bengkulu, 15-17 Februari, Muhammadiyah sepenuhnya menyadari bahwa era milenial dan revolusi industri 4.0 menengarai kebangkitan baru agama-agama di ruang publik.

Pengakuan dan kemungkinan-kemungkinan untuk mengimplementasikan gagasan-gagasan keagamaan, nilai-nilai, praktik-praktik, dan lembaga-lembaganya dalam bidang publik yang luas, meliputi pemerintahan, media, dan kehidupan warga negara, makin meningkat.

Dale Eickelman dan Jon Andersen (1999) menyatakan kebangkitan media terkini merupakan sarana strategis yang melayani transformasi Islam dalam pasar ide, identitas, nilai-nilai, dan wacana.

Beriringan dengan proses demokratisasi, kini otoritas dan interpretasi keagamaan berada di banyak tangan. Ruang publik berupa wacana dan partisipasi baru tidak terbatas pada lembaga-lembaga yang diakui oleh otoritas negara.

Ruang publik telah menjadi arena kontestasi bagi kaum konservatif untuk memunculkan tantangan bagi praktik dan otoritas penafsiran tradisional atas Islam, khususnya terkait kepentingan-kepentingan sosial dan agenda-agenda politik.

Terbukanya bidang sosial bagi para juru bicara baru dan praktik wacana baru bukan hanya menentang otoritas pemikiran yang telah mapan dalam persoalan keagamaan, bahkan juga membaurkan antara wacana publik dan privat dan menawarkan habitus baru dalam dunia produksi dan konsumsi yang berkaitan erat dengan media dan media baru.

Philip Jenkins memaknai abad ini sebagai abad ketika agama menggantikan ideologi sebagai kekuatan yang mengancam urusan-urusan kemanusiaan, mengarahkan sikap terhadap kebebasan dan kewajiban politik, konsep-konsep  kebangsaan, serta konflik dan perang.

Produksi teks-teks tentang Islam, tentang agama dan kekerasan, sekaligus  tentang perdamaian dan toleransi meningkat luar biasa. Perlu ditambahkan bahwa  peristiwa 9/11 bukan hanya menguatkan makna tentang wajah ganda yang suci (ambivalence of the sacred, meminjam istilah yang dikenalkan Scott Appleby), namun juga keterikatan secara global.

Setelah 9/11

Islam setelah 9/11 banyak memperoleh cibiran, namun juga mengundang minat dan ketertarikan banyak penduduk dunia untuk mengkajinya lebih mendalam.Wajar bila booming buku-buku tentang Islam dirasakan di Amerika Serikat utamanya dan negara-negara Barat umumnya.

Berbagai gagasan dan isu yang dikemukakan kaum intelektual, wartawan, dan sarjana mengenai Islam bertebaran di rak-rak buku dan di sudut-sudut jalanan. Islam juga banyak diperdebatkan di radio-radio dan acara-acara dialog dan berita di televisi.

Pidato-pidato para ulama tersebar dalam banyak rekaman audio. Ini semua merupakan suatu bidang sosial yang diperluas yang ditandai lebih dari sekadar otoritas yang dikontestasi dan suara-suara serta batasan-batasan yang makin berbaur.

Tentu saja ini juga telah memperluas ruang publik Islam yang makin diminati. Gambaran dan pertumbuhan Islam dalam dan melalui media perlu memperoleh perhatian penting dalam beberapa hal.

Pertama, media telah membuka akses konsumsi tentang Islam bagi  banyak orang dan dalam banyak kesempatan. Pesan dalam media menyampaikan sesuatu yang dulu privat atau wacana yang sangat terbatas dan kini telah menjadi pajangan di ruang publik.

Islam terus melekat di dunia publik dan menjadi informasi yang disampaikan melalui teknologi media baru  dengan kebiasaan-kebiasaan penerimaan yang juga beragam. Berbeda dari model produksi tradisional, Islam kini menjadi pesan dalam dunia pergulatan pesan. Lebih penting dari itu, media merupakan suatu bidang sosial dan aktivitas yang kompleks.

Berbagai analisis terhadap media cetak, misalnya analisis Messick dan Meeker, menunjukkan munculnya “peresmian wacana” yang muncul dalam bentuk cetakan; meliputi program islamisasi pengetahuan, sains, dan politik umumnya dalam kerangka untuk memperhitungkan materi-materi tersebut dalam bahasa dan khazanah Islam dengan argumen yang tidak kalah modern.

Komunikasi elektronik dan virtual juga menggerakkan wacana keislaman masuk ke dalam pasar. Media-media lokal kini telah bergabung  dengan satelit-satelit penyiar, kaset bergabung dengan Internet, yang semua itu telah mendorong suara-suara baru yang mampu mengumpulkan para pemirsa baru.

Memperluas Pola Ekspresi

Seperti halnya barang cetakan, bentuk-bentuk komunikasi elektronik dan virtual mengangkat wacana keislaman melampaui bahasa teks klasik menuju saluran-saluran kontemporer dan melibatkan aktor-aktor baru, situs produksi, dan konsumsi.

Kaset audio juga merupakan media untuk musik dan puisi rakyat, kebanyakan dari materi media itu bersifat keagamaan, televisi satelit bukan semata-mata untuk hiburan, bahkan juga bersama-sama dengan Internet menjadi wahana surat kabar internasional.

Kini makin tumbuh kelas-kelas menengah yang memperluas pola-pola ekspresi keberagamaan, pencarian agama, dan ketaatan melalui saluran-saluran baru, yang produksi dan konsumsinya dapat diakses dan berkembang di sekitar kebutuhan dan sumber daya khusus.

Ini merentang dari khotbah-khotbah yang beredar melalui media audio. Video berisi materi-materi keagamaan bagi anak-anak sehingga orang tua dapat mempergunakannya pada saat tidak ada sekolah keagamaan atau setidaknya sebagai alternatif bagi mereka.

Merentang dari “mufti media” yang menyampaikan saran-saran keagamaan  audio visual dan virtual hingga saran-saran psikologi dan sosial, yang menawarkan berbagai teks-teks keagamaan utama melalui hagiografi dan buku pedoman untuk menyaring berita-berita dan pandangan-pandangan mutakhir.

Ini menandakan bahwa media dan media baru kini menjadi wilayah baru bagi kontestasi  antara berbagai kepentingan, termasuk di dalamnya perebutan wacana dan opini publik di kalangan kelompok-kelompok Islam yang tumbuh.

Dalam konteks ini, Muhammadiyah sesungguhnya sadar pentingnya peran media baru dalam ranah kontestasi wacana sekaligus praksis gerakan. Sayangnya, Muhammadiyah  belum dapat berbuat banyak merespons masalah ini dalam banyak ranah aktivitas keagamaan dan nonkeagamaan.

Muhammadiyah masih belum cukup progresif dalam memanfaatkan dunia maya, big data atau mahadata, dan bahasa milenial untuk menyajikan konten dakwah dan aktivitas lainnya serta pembuatan kebijakan dan agenda.

Kosmopolitan

Karena itulah, Muhammadiyah perlu menyusun strategi pemanfaatan media baru sebaik mungkin untuk terus menjadi daya dukung  penyebaran gagasan dan praksis sosial moderasi Islam di tengah-tengah pergulatan ideologi dan globalisasi yang makin gencar.

Muhammadiyah mesti melakukan upaya-upaya ekstensifikasi dalam hal pendayagunaan berbagai jenis media (audio-visual-virtual) yang mungkin untuk diseminasi gagasan dan gerakan.

Muhammadiyah juga niscaya melakukan intensifikasi dalam arti memaksimalkan dan mengoptimalkan media yang sudah ada untuk membangun citra gerakan sebagai  gerakan Islam yang paling menarik dan progresif di antara berbagai gerakan Islam yang bermunculan.

Tidak kalah pentingnya, Muhammadiyah juga mesti mewaspadai kekuatan-kekuatan lain yang sengaja memanfaatkan media internal maupun eksternal untuk menenggelamkan citra Muhammadiyah di mata umat Islam, bangsa, dan dunia.

Kini saatnya pula Muhammadiyah dengan perspektif kosmopolitan tampil sebagai organisasi yang bergerak di wilayah global dengan memanfaatkan jaringan komunikasi dan informasi kontemporer dan menjadi alternatif bagi gerakan Islam global yang berwajah moderat, humanis, dan berkeadaban.

Sumber : https://news.solopos.com/read/20190219/525/972828/dakwah-muhammadiyah-pada-era-ruang-publik-virtual-