Disadur dari SUARA MUHAMMADIYAH–Saat ini Muhammadiyah mempunyai 177 Perguruan Tinggi. 42 di antaranya merupakan Universitas. Jumlah yang sangat besar untuk ukuran ormas Islam di Indonesia juga dunia. Jumlah Perguruan Tingi yang dimiliki Muhammadiyah ini secara kuantitatif dan sebarannya melebihi jumlah peguruan tinggi yang dimiliki negara Indonesia.

Tidak hanya dalam jumlah. Secara mutu, sejumlah Perguruan Tingi Muhammadiyah banyak yang sebanding bahkan melebihi PTN. Salah satunya adalah STIKES ‘Aisyiyah Yogyakarta yang pada tahun 2016 ini dinobatkan sebagai STIKES terbaik di tanah air.
Mengingat peran sentral Perguruan Tinggi di Indonesia yang merupakan pusat kemajuan peradaban, Muhammadiyah sebenarnya berhak untuk berbangga dengan seluruh capaian yang telah diraihnya saat ini.Bagaimana tidak, setiap tahun, ribuan cendekiawan dan tenaga ahli selalu dihasilkan dari rahim PTM di seluruh sudut tanah air. Dari hal ini PTM juga bisa disebut sebagai pilar Muhammadiyah dalam menyiapkan sumberdaya manusia agar Indonesia, negeri yang kaya makmur namun selalu salah urus ini bisa berubah menjadi negara yang kuat karena ditopang oleh masyarakat yang utama.
Tampaknya juga tidak terlalu berlebihan juga kalau PTM dikatakan sebagai modal Muhammadiyah untuk meningkatkan daya saing bangsa ini. Sekaligus sebagai modal bagi Bangsa Indonesia untuk memasuki dunia modern yang konon semakin penuh persaingan pada abad ke-21 ini.
Memang, tidak semua PTM yang ada sudah selesai dengan dirinya sendiri. Masih ada sebagian PTM yang kurang sehat yang belum mampu memenuhi beberapa persyaratan yang digariskan oleh Kementerian Riset, Teknologi dan Perguruan Tinggi. Namun, masalah yang dihadapi sebagian PTM ini juga merupakan masalah yang tengah dihadapi oleh PTS dan bahkan PTN yang lain.
Yang jelas, untuk berkompetisi di tingkat lokal Indonesia, selama tata-aturan perundangan dipatuhi oleh pemegang kuasa, mayortias PTM yang ada sekarang ini tampaknya tidak akan mengalami kesulitan yang berarti.
UMS walidah

Namun, untuk menghadapai era globalisasi dan regionalisasi yang dimulai dari MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) tampaknya masih banyak PTM yang harus berbenah. PTM harus segera melihat dengan jujur apakah kualitas para lulusannya bisa bersaing dengan gelombang tenaga kerja dari luar negeri yang masuk ke Indonesia atau bahkan malah bisa membanjiri lapangan kerja di luar negeri.
Kalau kualitas lulusan PTM kita tidak bisa bersaing, maka alih-alih membantu meningkatkan daya saing bangsa, PerguruanTinggi seperti ini malah hanya akan menjadi masalah bagi bangsa ini. Juga menjadi masalah bagi dakwah Persyarikatan.
Di samping itu, gelontoran modal asing yang masuk ke dunia perguruan tinggi pasti akan segera mengubah pola keseimbangan yang ada. Bajak-membajak dosen dan guru besar serta tenaga ahli yang berkualitas pasti akan segera terjadi. Dalam era perang bebas seperti itu hanya Perguruan Tinggi yang kuat dan berdaya saing yang akan bisa bertahan.
Dengan sekian ratus ribu alumni yang dihasilkan untuk bangsa, PTM sungguh layak untuk disebut sebagai pilar paling strategis Muhammadiyah dalam menapak abad kedua ini.
Tentu saja PTM layak disebut sebagai pilar strategis itu adalah PTM berkemajuan. PTM yang senantiasa mampu menunjukkan wujud dari Islam yang membebaskan, memberdayakan, dan memajukan kehidupan dari segala bentuk keterbelakangan, ketertindasan, kejumudan, dan ketidakadilan. Positioning PTM di MEA dan International (modal kemajuan Muhammadiyah untuk meningkatkan daya saing)
Apa yang tengah disiapkan PTM-PTM untuk menjawab hal itu (Modal yang telah dan disiapkan PTM untuk memasuki dunia modern abad ke-21 ini, era pasar dan tarung bebas ini).