Gerakan cinta shubuh telah dimulai di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Pagi ini (12 Maret 2016) merupakan kali kedua kegiatan tersebut dilangsungkan. Partisipasi masyarakat, dosen dan mahasiswa terlihat dengan penuhnya masjid Fazlurrahman, kampus I UMS dengan jamaah.

Memberikan taushiyah pada kegiatan gerakan cinta shubuh kali ini adalah ustadz Prof. Dr. Yunahar Ilyas, Lc. Beliau adalah Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang membidangi Tabligh dan Tarjih. Ustadz Yun memberikan materi pengertian dari surat al Anfal ayat 60. Terjemah dari ayat tersebut adalah: “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya.

Ustadz Yun menjelaskan tentang tujuh kekuatan yang hendaknya dipersiapkan. Beliau mengingatkan bahwa kekuatan senjata bukanlah kekuatan pertama yang dibangun, melainkan kekuatan terakhir.

1. Kekuatan aqidah. Kekuatan akidah akan menimbulkan rasa ketaatan kepada perintah Allah, kepada Rasul dan kepada pemimpin. Salah satu sendi perjuangan Muhammadiyah adalah untuk memurnikan aqidah.
2. Kekuatan ibadah. Praktek sholat berjamaah di berbagai negara lebih baik dari di Indonesia. Umumnya mereka menunggu waktu sholat jamaah di Masjid. Ukuran ibadah adalah sholat jamaah di masjid. Gerakan cinta shubuh menjadi salah satu upaya membina kekuatan ibadah.
3. Kekuatan akhlak. Akhlak ada yg bersifat pribadi dan bersifat sosial. Akhlak pribadi misalnya sholat dan bersikap sopan santun. Akhlak sosial misalnya bersedekah dan memperhatikan kebutuhan tetangga. Yang sering dilupakan adalah akhlak di ruang publik seperti menjaga kebersihan, mengantri, dan menjaga ketertiban di jalan.
4. Kekuatan jamaah. Allah memerintahkan umat Islam untuk berjamaah dalam berbagai aktivitas. Salah satu ayat quran berbunyi: “Qul hadziihii sabilii, ad’u ilallahi ana wa manittaba’ani” yang artinya “Katakanlah, inilah jalanku, aku menyeru kepada Allah dan juga orang-orang yang bersamaku.” Jamaah harus ada di organisasi maupun kehidupan sehari-hari. Kecenderungan one-man-show semestinya dihindari.
5. Kekuatan ilmu. Kuncimya adalah membaca. Waktu senggang hendaknya tidak hanya dimanfaatkan dengan mengobrol, tapi juga digunakan untuk membaca.
6. Kekuatan harta. Ekonomi umat harus baik.
7. Kekuatan senjata.
Ketujuh kekuatan tersebut harus diupayakan sendiri. Tidak tergantung dengan bangsa lain atau umat lain. Bagaimana akan menggentarkan musuh jika senjata dibeli dari musuh. Terkumpulkan kekuatan itu pada umat Islam akan menggentarkamn musuh Allah. Menggentarkan musuh Allah tidak boleh diartikan sebagai terorisme atau dilakukan dilakukan dalam bentuk teror.