Pergeseran akses media terjadi karena berubahnya media yang digunakan untuk mendapatkan informasi. Penonton di kalangan muda tidak lagi menonton televisi. Mereka lebih banyak mengakses konten digital (dan secara otomatis para pengiklan juga menggeser target iklan mereka ke media yang menyediakan konten digital). Sebuah pergeseran yang tidak bisa dibendung! Pergeseran yang pelan tapi pasti dan mungkin menyakitkan bagi beberapa pihak.

Perusahaan media raksasa sudah harus menyadari fenomena itu dan sudah harus bertindak. Pemain baru mestinya memulai langkah ke arah tujuan yang baru, dan tidak menggunakan model lama. Mereka yang bergelut di media baru sudah harus berpikir bagaimana pesan akan sampai pada audiens yang telah bergeser. Iklan televisi untuk meraih kalangan muda? Nanti dulu!

grafik pergeseran akses media

Data pemirsa televisi yang hengkang sejak 2012-2016

Survei dari Nielsen menyatakan, kalangan muda telah hengkang dari televisi. Waktu menonton TV oleh anak muda berumur 18 hingga 24 tahun telah berkurang sebesar 30% sejak tahun 2012 hingga tahun 2016. Terjadi penurunan serupa sebesar 18% untuk penonton berumur 24 – 35. Sebagian dilakukan dengan berhenti berlanggana TV kabel. Mereka menghabiskan waktu lebih banyak beraktivitas dengan media sosial atau menonton video online.

Majalan eMarketer menyebut bahwa belanja iklan melalui media digital akan segera menyamai belanja iklan melalui televisi. Dampak pergeseran akses media sudah dirasakan. Apa yang harus dilakukan? Bagi perusahaan iklan, jawabannya ada pada bagaimana menyisipkan iklan pada video yang akan ditonton secara online. Bagi pengiklan, mungkin sudah waktunya mengurangi belanja iklan televisi dan menambah porsinya untuk jenis iklan yang lain.

(disadur dari Big Media Needs to Embrace Digital Shift – Not Fight It, The Asian Wall Stree Journal, 22 Juni 2016)