YOGYAKARTA, Disadur dari Suara Muhammadiyah- Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir mengatakan bahwa Muhammadiyah merupakan sebuah organisasi modern yang diibaratkan seperti sebuah mesin, elemen-elemennya bergerak secara organik.

“Dalam Muhammadiyah kerap ada gesekan-gesekan, dan itu merupakan hal yang wajar, karena yang terpenting objektifitas berpikirnya, termasuk hubungan-hubungan resmi secara organisasi harus berjalan dengan baik,” papar Haedar dalam silaturahmi Idul Fitri 1438 H Keluarga Muhammadiyah di Kantor PP Muhammadiyah Cik Ditiro 23 Yogyakarta pada Ahad (25/6).

Dalam kesempatan tersebut Haedar juga berpesan agar momentum idul fitri harus ada peningkatan kualitas ketakwaan kita, sesuai dengan tantangannya masing-masing, dan hal itu menurut Haedar tidak mudah.

“Selain peningkatan ketakwaan, momentum idul fitri ini harus ada peningkatan jiwa, ruh, spirit, ideologi, dalam diri Muhammadiyah,” ungkap Haedar.

Dalam kesempatan itu, Haedar juga mengungkapkan bahwa Bangsa Indonesia saat ini mengalami keretakan karena pertarungan politik yang keras dan ulah sementara elite yang gegabah. Sehingga, diperlukan spirit kebersamaan dan kesediaan berkorban dari seluruh komponen bangsa untuk merajut persaudaraan sebangsa dan setanah-air sebagaimana diteladankan para pendiri bangsa.

“Umat Islam sebagai mayoritas dengan spirit puasa dan keislaman yang rahmatan lil-‘alamin perlu menjadi pengayom dan perekat integrasi nasional dengan seluruh warga bangsa sebagaimana selama ini telah ditunjukkan dalam sejarah perjalanan bangsa. Kembangkan sikap tasamuh dan ukhuwah yang lapang hati demi keutuhan negeri,” ujar Haedar.

Haedar berpesan agar para elit politik dalam melakukan sebuah kebijakan harus mengedepankan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kroni.

“Kedepankan jiwa kenegarawanan dan jauhi sikap saling sandera yang menyebabkan terkorbankannya hajat hidup bangsa dan negara. Perlu paradigma baru politik dan demokrasi yang bermoral mulia berbasis agama serta dijiwai hikmah kebijakansanaan dan permusyawaratan sebagaimana nilai luhur Pancasila,” pungkas Haedar.

Dalam acara tersebut turut hadir Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Buya Syafi’i Maarif, Sekretaris PP Muhammadiyah Agung Danarto, Bendahara PP Muhammadiyah Marpuji Ali, Ketua PP Muhammadiyah Busyro Muqoddas, Agus Taufiurrahman, Ketua Umum PP Aisyiyah Siti Noordjannah Djohantini, Ketua Majelis, Lembaga, serta Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), serta para sesepuh Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah.