Hadirkan Peneliti dari Prancis, Pusat Studi Informatika Sosial FKI UMS Bahas Peran AI dalam Penanggulangan Bencana Alam

FKI.UMSAC.ID, SURAKARTA – Pusat Studi Informatika Sosial, Fakultas Komunikasi dan Informatika Universitas Muhammadiyah Surakarta (FKI UMS), menyelenggarakan Webinar Series bertajuk “From Chaos To Clarity: AI Approaches to Crisis Management In Natural Disasters” pada Jumat (19/12/2025). Kegiatan ini digelar secara daring melalui Zoom Meeting dan diikuti oleh dosen, mahasiswa FKI UMS, serta peserta umum dari berbagai instansi pemerintah dan swasta.

Webinar menghadirkan pembicara internasional, Leila Moudjari, Ph.D, seorang peneliti dan dosen di Université de Toulouse, Prancis.

Dalam sambutannya, Wakil Dekan I FKI UMS sekaligus Ketua Pusat Studi Informatika Sosial UMS, Endang Wahyu Pamungkas, S.Kom., M.Kom., Ph.D menyebut tema yang diangkat sangat relevan dengan kondisi Indonesia yang rawan bencana alam. Ia berharap kegiatan ini dapat memberikan wawasan dan ilmu yang bermanfaat bagi seluruh peserta.

“Tema ini sangat relevan dengan kondisi Indonesia saat ini. Saya berharap para peserta memperoleh ilmu yang dapat dikembangkan ke depannya,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi langkah Pusat Studi Informatika Sosial FKI UMS dalam menghadirkan diskusi ilmiah berskala internasional dan berharap kegiatan serupa dapat terus berlanjut.

Dalam paparannya, Leila Moudjari menjelaskan bagaimana kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mampu mengubah situasi krisis menjadi lebih terkelola melalui analisis data secara real-time.

AI dapat memanfaatkan data dari media sosial, sensor, hingga citra satelit untuk mendeteksi peringatan dini, menilai dampak bencana, serta mengoptimalkan distribusi sumber daya saat masa tanggap darurat.

Leila menekankan bahwa AI berperan sebagai pendukung pengambilan keputusan manusia, bukan sebagai pengganti. Ia juga menyoroti tantangan penerapan AI di negara berkembang seperti Indonesia, khususnya terkait kesiapan infrastruktur data dan tingkat literasi digital masyarakat.

Pembahasan turut menyinggung peran media sosial dalam situasi bencana. Menurut Leila, analisis real-time unggahan media sosial sangat penting untuk mendeteksi kebutuhan mendesak dan memverifikasi informasi.

Ia memaparkan sejumlah studi di Eropa dan Turki yang menunjukkan bagaimana data media sosial dapat membantu proses evakuasi dan penyelamatan korban bencana.

Isu misinformasi juga menjadi perhatian utama dalam diskusi kali ini. Leila menjelaskan bahwa AI dapat digunakan untuk mengendalikan penyebaran informasi palsu melalui sistem multimodal yang mengombinasikan Natural Language Processing (NLP), data meteorologi, citra satelit, dan sinyal media sosial.

Lebih lanjut, Leila menekankan kolaborasi antara pemerintah dan perusahaan teknologi disebut menjadi kunci dalam menekan dampak disinformasi saat terjadi krisis bencana.

Webinar ini juga membahas praktik terbaik penerapan AI secara etis, termasuk transparansi sistem, perlindungan data, serta pengawasan manusia dalam setiap prosesnya.

Leila memaparkan contoh penerapan AI yang berhasil, seperti sistem Intact di Prancis dan program “Early Warnings for All” dari Perserikatan Bangsa-Bangsa yang memanfaatkan AI untuk peringatan dini bencana.

Di akhir diskusi, Lelita mengatakan bahwa AI tidak bisa menghilangkan ketidakpastian dari bencana, tetapi bisa mengubah kekacauan menjadi sebuah kejelasan.

“Dan itu belangsung cukup cepat untuk membantu mengurangi dampak yang lebih serius,” pungkasnya.

Melalui webinar ini, Pusat Studi Informatika Sosial menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan ruang diskusi akademik yang relevan dengan tantangan global dan kebutuhan masyarakat. (Risqi Sonjaya)